Selasa, 03 Maret 2009

Stasiun dan Penjual Salak

Hari minggu kemarin aku pulang dari rumah saudara di Ciracas, Jakarta Timur dengan naik kereta. Berhenti sejenak di stasiun Tanah Abang tuk pindah kereta ke arah Pondok Ranji. Anda pernah ke stasiun Tanah Abang? Bagi yang pernah, sudah tahu lah gambaran stasiun ini. Di bawah, di tempat tunggu calon penumpang, seperti umumnya stasiun di Jakarta, begitu banyak penumpang berjejalan, termasuk aku. Pun para pedagang asongan.

Saat itu, ada seorang bapak pedagang salak pondoh menjajakan dagangannya pada sekumpulan ibu-ibu, sekitar enam orang. "Salak pondoh Bu, manis. 20 biji 5000 perak aja. Boleh dicoba, beli urusan belakang." Tawarnya dengan logat khas Sunda yang kental. Entah karena memang tertarik, atau karena boleh nyoba gratis, ibu-ibu itu pun mengambil masing-masing satu buah dan mencobanya. Adegan selanjutnya adalah hal yang sangat menyentil hati saya. Anda tahu apa kira-kira? Bapak penjual salak mengambil sebuah kantung plastik kresek dari sakunya dan mengulurkannya pada ibu-ibu itu. "Kulitnya bu, biar nanti saya yang buang ke tempat sampah." Deg!! Tiba-tiba ada rasa ngilu di hati.

Sejurus kemudian, saat bapak penjual salak sibuk melayani calon pembelinya, datang seorang bapak lainnya, tiba-tiba mencomot sebuah salak dan berlalu begitu saja tanpa basa-basi. Beberapa saat kemudian, bapak panjual salak mengejar orang itu. Namun adegan selanjutnya lagi-lagi membuat hatiku tersentil, namun dengan sentilan yang lebih keras, hingga terasa lebih ngilu. "Kulitnya taruh sini, atau buang di tempat sampah sana." Kata bapak penjual salak dengan ramah pada oarang itu tadi, yang ternyata kenalannya.

Sungguh, entah berapa puluh atau berapa ratus kali aku melupakan hal sederhana itu. Sekedar membuang sampah pada tempatnya, hanya hal sesederhana itu. Dan entah berapa puluh atau berapa ratus kali pula aku menghilangkan kesempatan tuk saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebenaran, tentang suatu hal yang teramat sederhana. Seperti yang telah dilakukan oleh bapak penjual salak, yang mungkin sekali melakukannya hanya tanpa sengaja, hanya karena terbiasa. Hanya karena terbiasa. Aku yang seorang muslim, yang hapal slogan dan hadits bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Lantas, dimana sebagian imanku? Amat sakit rasanya menyadari hal itu, hingga membuatku hampir menangis saat itu juga, andai saja kesombonganku dan gengsiku tak menahannya.

Terima kasih buat bapak penjual salak, atas sentilan yang begitu sederhana kepadaku.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, melainkan yang beriman dan yang beramal sholeh, dan yang saling menasehati dalam kebenaran, dan yang saling menasehati dalam kesabaran.”
(QS. Al Ashr 1-3)

Tidak ada komentar:

cutyfans

Selamat datang di cutyfans. Selamat menikmati segala cuap-cuap yang tersedia. Kritik dan saran selalu akan kami terima, cukup tulis komentar saja.