Senin, 23 Maret 2009

tak berjudul








Berhentilah sejena k, tengoklah ke belakang, maka akan kau sadari bahwa kita tlah berjalan begitu jauh, atau mungkin malah tak beranjak selangkah pun.

Jumat, 06 Maret 2009

ternyata . . .

Ternyata memang belum bisa berbuat banyak. Bahkan mungkin belum berbuat apa-apa??
Lantas kenapa begitu bangga?

dari teman lama

Heh..., pagi-pagi ng-blog lagi. baca-baca punya temen c. Tapi tiba-tiba aja inget ma kata-kata temen lama dulu, temen STM. Semacam pepatah gitu. Agak lucu, tapi klo dipikir ada benernya juga. Coba deh baca sendiri. Soal pendapat c, tentu saja murni terserah anda.

"Berani hidup tak takut mati.
Takut mati, jangan hidup.
Takut hidup, mati saja."

Pake warna ijo ni, biar kliatan lebih hidup, hehe....

Rabu, 04 Maret 2009

Tentang Subuh

Beberapa hari yang lalu saya membaca kolom guyonan berupa tebak-tebakan di sebuah koran. Namun pada akhirnya hal itu malah jadi bukan sekedar tebak-tebakan biasa bagi saya. Begini tebakan itu:

"Sesuatu apa yang tidak punya hidung, tidak punya paru-paru/insang/kulit, tapi dia bisa bernapas?"

Anda tahu apa jawabannya? Pada awalnya saya juga tidak terbayang sama sekali apa jawabannya. Sekali lagi, anda tahu apa jawabannya? Jreng-jreng!!! Jawabnya adalah "Wasubhi idza tanaffas." Yup, benar sekali. Sepenggal kalimat Al Qur'an. "Dan demi subuh ketika dia bernafas." Konon, tebak-tebakan ini berasal dari pertanyaan yang diajukan kepada Imam Ali. Namun, bukan tawa yang keluar dari bibir ini. Hanya gumaman saja, "subhanallah...!!" Seketika itu juga hati ini tiba-tiba berdebar debar, dada ini rasanya sesak sekali. "Ada apa ini?" Tanya saya dalam hati.

Ada apa hingga subuh itu bisa bernafas? Apa yang terjadi saat subuh itu, sehingga ia disebut bisa bernafas? Bagaimana subuh itu bernafas? Yang saya cari bukan penafsiran filosofis saja, karena saya yakin, ALLAH SWT menyimpan makna yang lebih dalam lagi. Saya ingin mencari maknanya dari sudut pandang ilmu pengetahuan, dari IPA misalnya. Dan hingga saat ini saya masih mencari-cari makna dari kalimat itu.
Setelah bertanya kanan-kiri pada teman-teman saya, saya peroleh beberapa pendapat. Namun saya belum berani memposting di sini. Masih ada kekhawatiran jika malah menyesatkan. namun, Next Post, saya akan coba paparkan hasil pencarian saya.

Lilin

Seringkali aku bermimpi,
ingin menjadi sekuntum teratai,
mekar indah,
meski tumbuh di air yang keruh.

Tapi tak apalah,
jika kiranya aku hanya lilin,
terlupakan ketika terang,
namun masih mungkin dicari ketika gelap datang.

Kan kucoba tuk membagi cahaya dan kehangatan,
meski kecil,
dan meski harus dengan membakar diri sendiri.

Tapi ku takut,
jika ku bukan apa-apa.

Karena ku bukan apa-apa.

Tentang Diri Sendiri

Pernah dengar pepatah ini kawan? "Semakin banyak kita bercerita tentang diri sendiri, semakin besar peluang kita tuk berdusta." Apakah benar begitu kawan? Entahlah. Tapi bagiku, mungkin hal itu sering kali benar. Hampir selalu ada keinginan untuk dinilai begini/begitu dengan setiap cerita itu. Pengen terlihat baik kah? Pengen terlihat lugu kah? Pengen terluhat lucu kah? Atau bahkan pengen terlihat jahat kah? Skali lagi, entahlah. Maka, jika aku sedang bercerita tentang diriku, aku harap siapapun tak langsung percaya, karena mungkin aku telah/sedang berdusta, entah sengaja/tidak. Hhh, aneh ya?! Begitulah.


Aku hanya ingin jadi aku. Jangan paksa aku menjadi maumu, karena mungkin aku akan berdusta.

Selasa, 03 Maret 2009

Tentang Awan

“Seringan-ringan awan yang tertiup angin, setidaknya ia masih mampu utuk menantang matahari”

Mungkin itu hanya secuil pepatah buatanku sendiri, sepatah kata tuk menghibur diri ketika merasa kurang, tuk mengerem dan mengingatkan diri ketika merasa lebih. Sejelek-jeleknya, selemah-lemahnya sesuatu/sesorang, pasti masih memiliki suatu kelebihan. Bagi siapapun yang merasa dirinya lebih dibanding orang lain, janganlah hal itu membuat kita sombong dan takabbur. Dan bagi siapapun yang merasa dirinya kurang, merasa dirinya lemah dibanding orang lain, janganlah hal itu membuat kita berkecil hati hingga kita lupa pada nikmat-nikmat lainnya, membuat kita kufur pada nikmat dari-NYA. Karena bahkan pada awan yang begitu ringan hingga terombang-ambing oleh angin itu pun, ALLAH SWT. Memberinya kemampuan untuk menantang matahari, membagi keteduhan bagi makhluk hidup di muka bumi. Apalagi pada tiap diri manusia, yang katanya makhluk paling sempurna? Amat tidak mungkin ALLAH SWT. tidak memberinya apa-apa. Karena sungguh, ALLAH SWT. itu maha adil dan maha bijaksana.

Stasiun dan Penjual Salak

Hari minggu kemarin aku pulang dari rumah saudara di Ciracas, Jakarta Timur dengan naik kereta. Berhenti sejenak di stasiun Tanah Abang tuk pindah kereta ke arah Pondok Ranji. Anda pernah ke stasiun Tanah Abang? Bagi yang pernah, sudah tahu lah gambaran stasiun ini. Di bawah, di tempat tunggu calon penumpang, seperti umumnya stasiun di Jakarta, begitu banyak penumpang berjejalan, termasuk aku. Pun para pedagang asongan.

Saat itu, ada seorang bapak pedagang salak pondoh menjajakan dagangannya pada sekumpulan ibu-ibu, sekitar enam orang. "Salak pondoh Bu, manis. 20 biji 5000 perak aja. Boleh dicoba, beli urusan belakang." Tawarnya dengan logat khas Sunda yang kental. Entah karena memang tertarik, atau karena boleh nyoba gratis, ibu-ibu itu pun mengambil masing-masing satu buah dan mencobanya. Adegan selanjutnya adalah hal yang sangat menyentil hati saya. Anda tahu apa kira-kira? Bapak penjual salak mengambil sebuah kantung plastik kresek dari sakunya dan mengulurkannya pada ibu-ibu itu. "Kulitnya bu, biar nanti saya yang buang ke tempat sampah." Deg!! Tiba-tiba ada rasa ngilu di hati.

Sejurus kemudian, saat bapak penjual salak sibuk melayani calon pembelinya, datang seorang bapak lainnya, tiba-tiba mencomot sebuah salak dan berlalu begitu saja tanpa basa-basi. Beberapa saat kemudian, bapak panjual salak mengejar orang itu. Namun adegan selanjutnya lagi-lagi membuat hatiku tersentil, namun dengan sentilan yang lebih keras, hingga terasa lebih ngilu. "Kulitnya taruh sini, atau buang di tempat sampah sana." Kata bapak penjual salak dengan ramah pada oarang itu tadi, yang ternyata kenalannya.

Sungguh, entah berapa puluh atau berapa ratus kali aku melupakan hal sederhana itu. Sekedar membuang sampah pada tempatnya, hanya hal sesederhana itu. Dan entah berapa puluh atau berapa ratus kali pula aku menghilangkan kesempatan tuk saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebenaran, tentang suatu hal yang teramat sederhana. Seperti yang telah dilakukan oleh bapak penjual salak, yang mungkin sekali melakukannya hanya tanpa sengaja, hanya karena terbiasa. Hanya karena terbiasa. Aku yang seorang muslim, yang hapal slogan dan hadits bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Lantas, dimana sebagian imanku? Amat sakit rasanya menyadari hal itu, hingga membuatku hampir menangis saat itu juga, andai saja kesombonganku dan gengsiku tak menahannya.

Terima kasih buat bapak penjual salak, atas sentilan yang begitu sederhana kepadaku.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, melainkan yang beriman dan yang beramal sholeh, dan yang saling menasehati dalam kebenaran, dan yang saling menasehati dalam kesabaran.”
(QS. Al Ashr 1-3)

cutyfans

Selamat datang di cutyfans. Selamat menikmati segala cuap-cuap yang tersedia. Kritik dan saran selalu akan kami terima, cukup tulis komentar saja.